Apakah ini nasib menjadi seorang guru, setiap hari dicaci dan dimaki oleh anak didiknya yang tidak suka mengikuti pelajaran, dan tidak hanya cukup itu saja setiap hari juga selalu dido’akan oleh mereka. Ingin tahu apa yang mereka do’akan ? kurang lebihnya seperti ini : “moga-moga sekarang pelajaran kosong (nda ada pelajaran)”, “moga-moga guruku nda datang (ada kepentingan”, “moga-moga guruku sakit”, dan yang paling parah adalah “moga-moga guruku . . . (mati)”.
Apakah benar menjadi seorang guru seperti ini ?
Kalau tidak salah nenek moyangku bilang : “Guru adalah orang bekerja tanpa tanda jasa”.
Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, kenapa ? Selama ini memang jasa yang diberikan tidak pernah dapat balasan, Gaji memprihatinkan selalu dibawah UMK, dalam masa tugas selalu benci, sampai dengan mereka luluspun tidak ada kenangan jasa yang mereka ingat, yang mereka ingat hanyalah sepenggal kelucuan-kelucuan yang tertanam karna kisah yang tak bisa terulang.
Nasib, nasib…! Inilah nasib seorang Guru.